Harian Naskah, TUBA- Pengelola Pamsimas Kampung Kecubung Jaya gertak wartawan dengan bekingan preman. Setelah mencuatnya pemberitaan tata kelola keuangan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Kampung tersebut.
Salah satu oknum yang berinisial (AS) mengaku sebagai kerabat pengelola Pamsimas Kampung Kecubung Jaya, menghubungi wartawan media ini melalui sambungan WhatAps (WA), pada Senin (21/10/24). Tiba-tiba mengertak dengan dalih tidak terima atas pemberitaan yang terbit di media online Harian Naskah, Suluh News dan Wanmedia.
“Sampean jangan neko-neko dengan memberitakan saudara saya. Itu udah naik berita ngurusak nama baiknya. Tau ngak sampean, saya mantan preman dan kiyai, siapa yang ngak kenal dengan saya,” gertak sang AS dengan suara ngegas.
Selain dari itu, AS yang mengaku kerabat DI dan AM yang notabennya sebagai pengelola Pamsimas Kampung Kecubung Jaya seakan-akan mengancam atas pemberitaan tentang tata kelola keuangan Pamsimas yang tidak transparan.
Menyikapi masalah tersebut, Tarmizi salah satu wartawan senior di Kabupaten Tulang Bawang akan mengambil langkah tegas atas sikap oknum yang mengaku preman dan pengelola Pamsimas Kampung Kecubung Jaya yang mengintimidasi wartawan dalam menjalankan tugas jurnlistiknya.
“Kita akan menindak lanjuti permasalahan ini sampai ke pihak terkait seperti Dinas, bahkan Aparat Penegak Hukum (APH). Hal ini tidak bisa disepelekan saja, karena bukan menyakut propesi sebagai jurnalis, tapi sudah masuk keranah hukum dengan adanya acaman dari oknum tersebut,” tegas Tarmizi wartawan senior yang sudah melantang melintang di dunia jurnalis.
Diberitakan sebelumnya, Pengelola keuangan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), di Kampung Kecubung Jaya, Kecamatan Gedung Aji, Kabupaten Tulang Bawang patut dipertanyakan.
Pasalnya, program Pamsimas yang dibangun pada tahun 2019 tersebut, sampai sekarang 2024 tata kelola keuangannya diduga karut marut atau kusut dan tidak ada terbukaan publik.
Hasil penyelusuran dari narasumber Keluarga Penerima Manfaat (KPM) atau konsumen mengatakan, pemakaian Pamsimas ditarik iuran perbulan dengan nominalnya yang bervariasi oleh petugas pengelola, Minggu (20/10/24).
“Kalau saya, perbulannya bayar iuran kisaran 45 ribu sampai 50 ribu. Ada juga yang lebih dari situ iurannya,” ungkap narasumber yang enggan namanya disebutkan.
Menurut narasumber, ia heran dalam pembayaran iurannya merasa tidak sesuai dengan pemakaian air Pansimas. Padahal pemakai air Pamsimas hanya digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian saja, sedangkan untuk air minum masih menggunakan sumber air sumur. Dikarenakan air Pamsimas rasanya kurang enak untuk diminum.
Narasumber lain, menyampaikan hal yang sama untuk pemakaian air Pamsimas iuran perbulan 30 ribu sampai 35 ribu bayarnya.
“Ya gimana bang, disini kalau musim kemarau air sumurnya ada kering. Jadi warga menyalur air di Pamsimas untuk kebutuhan sehari-hari,” ucap narasumber.
Sementara saat di konfirmasi, petugas pengelola Pamsimas Kecubung Jaya yang berinisial (DI) membenarkan, adanya penarikan iuran bulanan kepada KPM dengan nominal bervariasi.
“Untuk nominal bervariasi bang, bahkan ada yang belum bayar atau ngutang dulu. Biasa lah,” terang DI yang enggan menyebutkan jumlah detail nominal.
Saat disinggung untuk Kas Pamsimas pertahunnya petugas pengelola DI juga enggan menyebutkan hasil nominalnya.” Engak tentu bang berapa jumlahnya, soalnya uang Kas untuk biaya bayar listrik sama biaya perawatan dan juga kerusakan alat Pamsimas,” ucapnya.
Dia menambahkan, kalau mau lebih jelasnya tanya langsung sama ketua Pamsimas saya bang. Untuk masalah uang Kasnya saya ngak bisa memberikan statment.
Terpisah, ketua Pamsimas berinisial (AM) menyampaikan, ada dua titik bangunan program Pamsimas di Kampung Kecubung Jaya. Untuk dua titik Pamsimas sampai sekarang ini baru sekali ganti mesin, cuma kalau kelistrikannya udah sering ganti.
AM juga menjelaskan, KPM atau konsumen Pamsimas awalnya sebanyak 30 warga, cuma kurang tau juga sekarang, udah ada tambahan berapa warga yang memakainya.
“Untuk uang Kas Pamsimas, cuma terima pelaporan saja dari pelaksana di lapangan. Jumlah detailnya lupa saya. Itukan penarikan berdasarkan meteran 2 ribu rupiah. DI yang lebih paham soalnya dia yang narik iuran dan belanja kalau ada kebutuhan perawatan Pansimas,” kilahnya. (*hn/dra)

